Kendali Biaya: Memulangkan Pasien Karena Tarif Terlampaui

Masih dalam bahasan Kendali Mutu dan Biaya, kita coba bahas lebih dalam soal biaya. Di negara Nunjadi, ada praktik oknum rumah sakit yang memulangkan pasien karena biaya perawatannya sudah melebihi tarif yang dibayarkan oleh asuransi. Apakah ini termasuk dari upaya melakukan kendali biaya? Saya pikir kita setuju jawabannya tidak. Pertama karena tidak mengutamakan pasien, dan kedua praktik tersebut jauh dari konsep kendali yang kita bahas dalam seri posting KMKB. Lantas bagaimana melakukan kendali biaya?

Sebenarnya jika kita memahami bahwa KMKB pusatnya adalah di proses, maka biaya dapat dianggap sebagai objek yang kita kendalikan sebagaimana mengendalikan mutu. Kalau sebelumnya indikator mutu yang dikendalikan seperti waktu tunggu pasien, waktu racik obat, angka kematian ibu, dan lain-lain, maka indikator biaya pun dapat dikendalikan.

Mari kita ambil contoh biaya persediaan. Di setiap laporan bulanan, selalu ada nilai persediaan. Jika kita sudah memiliki data yang cukup banyak, maka data nilai persediaan ini juga dapat kita analisis stabilitas (terkendali atau tidak) dan kapabilitasnya (memenuhi standar atau tidak). Seketika di suatu bulan ada indikasi out-of-control, maka kita segera tahu bahwa ada sesuatu (sebab spesial) yang terjadi dan harus kita cari sampai dapat dan atasi kalau memang sebab spesial itu merupakan suatu kesalahan.

Contoh yang lain misalnya kita ingin menganalisis biaya perawatan untuk penyakit dengan diagnosis XYZ. Data sejumlah pasien yang menderita XYZ kita kumpulkan, syukur jika kita punya cukup banyak data. Data ini dapat kita analisis stabilitas dan kapabilitasnya.

  • Stabilitas artinya selama tidak ada penyakit lain yang menyertainya, seharusnya biaya perawatan pasien XYZ akan terkendali secara statistik (in-control). Jika dari peta kendali ditemukan indikasi out-of-control, maka patut dicurigai bahwa ada sebab spesial yang terjadi pada pasien tertentu. Rumah sakit harus mencari tahu apa sebab spesial tersebut. Jika ditemukan bahwa ternyata ada penyakit lain, maka harus diterima bahwa biayanya memang berbeda. Jika kita kumpulkan data-data penyakit dengan penyakit penyertanya, maka kita akan punya peta kendali baru untuk kasus tersebut. Begitu seterusnya sehingga rumah sakit akan memiliki peta kendali untuk semua kode diagnosis ICD yang menjadi 1075 grup dalam INA-CBG. Jika hal ini terjadi, rumah sakit akan dapat memberikan data yang akurat kepada pemerintah terkait dengan tarif INA-CBG sebagai pembanding pendekatan TOP-DOWN yang digunakan saat ini.
  • Terkait kapabilitas, maka harus disepakati dulu standarnya apa? jika (harus) disepakati bahwa tarif INA-CBG adalah standar yang digunakan, maka data biaya perawatan penyakit XYZ harus dibandingkan dengan standar tersebut, dan seharusnya dapat disimpulkan apakah suatu rumah sakit memenuhi standar itu atau tidak. Tinggal dikaji saja apakah memang benar ketidakmampuan memenuhi standar itu suatu hal yang harus diperbaiki, atau tarifnya yang terlalu ketat.

Dengan demikian, kendali mutu dan biaya memang merupakan hal pokok yang harus dilakukan setiap faskes. Lewat KMKB proses pelayanan dapat dilakukan memenuhi standar yang ditetapkan dan dengan biaya yang dapat dipertanggungjawabkan.

Series Navigation<< KMKB: Proses Terkendali = Proses yang Kapabel?Ringkasan Konsep KMKB versi IRIHM >>

2 tanggapan pada “Kendali Biaya: Memulangkan Pasien Karena Tarif Terlampaui

  • Apologi-nya, memulangkan pasien bukan karena overbudget tapi strategi mengalihkan risiko (dengan merujuk ke rumah sakit PPK-3) atau membuat claim perawatan baru

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *